“Frisca? Kemana saja kau?”
tanya kakaknya Grace padanya saat Ia sudah berada didalam kamarnya.
“Aku… aku tadi hanya berkeliling sebentar keluar
rumah naik sepeda yang diparkir dihalaman tadi” kata Friska terbata bata kepada
kakaknya itu.
“Syukurlah, kukira kau tadi diculik makanya aku
khawatir sekali padamu” kata Grace sambil menepuk nepuk pundak Friska dengan
wajah sedih yang mulai tersenyum.
“Sista, kau ini bercanda ya , memangnya ada , orang
yang mau menculik wanita seperti aku ini?” katanya sambil tersenyum sinis. Ia memang sedang bercanda , karna rasa
rasanya disini tidak ada yang menculik anak ? tanda-tandanya pun sesekali tidak
terlihat … Mungkiinn sajaa bukan disini ,, tapii,,
“Fris.. hey.. apa kau melamun?” kata Grace sambil
mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Friska. “Oh, eh , tidak Grace , aku harus kekamar ,
aku lelah , aku mau tidur dan yang pasti , aku mau menelfon temanku” . Friska
pergi , meninggalkan Grace yang sedang berdiri menatap punggung-nya , Grace
bingung , Ia tidak tau apa yang sedang terjadi , tapi , sebenarnya Ia juga
sangat lelah , jadi Ia berjalan ke kamarnya sambil menatap atas , bawah , atas
, bawah , Lalu perlahan Ia buka gagang pintu , dan masuk , lunglai di tempat
tidur? Tentu saja!!!
JJJJJ
“Jane, Hanya kau satu satunya teman yang aku
ceritakan tentang kehidupan ku saat ini”
pekiknya saat Nomor yang sedari tadi Ia hubungi akhirnya diangkat juga.
“Really? I think , Iam the woman that very lucky in
the world “ kata Jane sambil tertawa . “Yes , of course , haha :v” balasnya dengan tawa yang lebih keras lagi.
“jane , apa sampai sekarang kau belum liburan juga?”
tanyanya saat tawa mereka sudah mereda. “Sudahlah , kau terlalu sering
menanyakan liburanku , seharusnya , aku yang harus bertanya seperti itu, Nah ,
apakah liburanmu disana menyenangkan?” Jelas jane dengan volume yang
tinggi-rendah dan besar-kecil . Ia terdiam beberapa menit , Lalu menatap kamar
Naruto itu lagi… , Ia akhirnya tersenyum dan berkata “Ya, tentu saja , aku
disini sangat bahagia , aku punya kamar yang lebih bagus daripada kamar di
London waktu itu , dan disini aku juga menemukan tempat rahasia yang paling aku
senangi , Kau akan kuajak masuk jika kau mendatangiku kesini” tanpa disadari ,
ekspresi , suara bahkan mimiknya saat ini bisa ditebak jelas oleh Jane bahwa ,
Ia memang bahagia …
“Kau memang kelihatan senang dan bahagia Fris , aku
curiga , kau tidak hanya punya tempat rahasia saja kan? Pasti kau juga punya ,
Isi yang rahasia , ayo beritahu Fris , I
wanna hear from you , please..”
Ia terdiam sekali lagi ,
Jane begitu tahu tentang kehidupannya yang sebenarnya , Tapi satu jane yang
tidak tahu , bahwa Ia tidak pernah mengungkit masalah lelaki.. Ya , Ia senang karna
dua orang lelaki itu..
“Hmmm , jane , sepertinya Grace sudah menungguku di
meja makan , Aku harus makan dulu , bye
“ hanya itu yang dapat dikatakannya , ia mematikan telfon , dan sebenarnya
bukan untuk makan , tapi untuk tidur , dan bermimpi indah hari ini.
JJJJJJ
Tiga
06.00
, waktu yang sangat tepat untuk marathon di pagi hari , sudah lama Ia tidak
marathon seperti dulu , Ia memang lebih sering naik sepeda daripada berjalan
kaki , karna menurutnya , itu lebih bagus. Perlahan , Ia melipat selimutnya ,
mengambil handuk dan masuk kamar mandi , Memang , dingin , tapi tidak ada yang
mustahil … Di 15 menit kemudia Ia sudah berada di halaman rumahnya dan
mengambil sepeda yang biasa Ia pakai untuk marathon pagi hari , Ya seperti yang
dikatakannya!.
“Hah,,
sejuk sekali disini” pekiknya diantara sepinya jalanan dengan sepeda yang
dikayuhnya namun tidak dengan kedua tangannya yang memegang kendali , Ia
terlalu senang. “Andai saja aku bisa bangun sepagi ini dari dulu , pasti aku
akan tiap hari mengayuh sepeda kemanapun aku mau , disini sangat sejuk , sepi ,
aku suka SEPI!” pekiknya sekali lagi dengan tangan yang melebar . Hingga Ia
tidak sadar , Ia menabrak seseorang . Brakk! Sepeda jatuh , kakinya terluka.
“Apa
kau tidak apa apa?” suara seorang laki laki yang barusan ditabraknya , Ia
memandang wajah laki laki itu , wajah
putih bersih , Kelihatannya tinggi , Mata hazel , berambut cepakrapi hitam ,
berjaket hitam dengan baju kaos didalamnya. Sepertinya Ia juga sedang marathon
, tapi takut kedinginan. Aku melihatnya sekali lagi, aku seperti…. Mengenalnya.
…..
“Hey,
apa kau tidak apa-apa?” lamunannya buyar , Laki laki itu membuat Ia gugup ,
Lalu ia menjawab “Tidak , aku tidak apa-apa” sambil bangkit berdiri dan
menyapu-nyapu tangannya , Ia melanjutkan “Ma..maaf, aa.. aku tii..tidakkk,
bermaksud , me.. nabrakk mu, a..ku tidak melihatmu tadi .. aku.. aku…” , “Ya,
aku melihatmu , kau memang tidak sengaja , dan kau tidak melihatmu , dan aku
juga tahu , kau tadi memang kelihatan sangat senang” potong laki laki itu seakan
tau apa yang akan diucapkannya , Ia pun terdiam , bingung , lalu , tanpa
disadari , laki laki itu menatapnya , membuatnya salah tingkah dan akhirnya
berkata “Apa kita pernah bertemu?” tanya laki laki itu sambil menatapnya sekali
lagi.
“
Aku memang seperti mengenalmu , tapi tidak tau dimana..” katanya dengan sedikit
terbata-bata sambil berfikir mengetuk ngetuk dagunya. Laki laki itu ,
mengulurkan tangannya sambil berkata “Stefan!!!
apa kau. Friska?” perkenalan yang membuat jantung Friska berdegup kencang. Deg
, siapa dia? Kenapa dia tahu namanya Friska , Stefan , stef..an , apa
jangan-jangan.. Ia.. Ia..
“Ya,
sekarang aku mengenalmu , kau , kau Stef yang dikamar Naruto itu kan?” , “Ya,
dan yang membuat jantungku hambir meledak saat
itu” potong laki laki yang sebenarnya bernama Stefaan itu, ia-friska- , malu , Ia hampir saja
tertawa jika Ia tidak melihat ekspresi sedih Stefan saat itu , yang lebih
dominan kearah ,, dibuat buat.
“Bagaimana
kau tahu namaku Friska?” tanyanya sambil melipat kedua tangannya didada. “Dari
temanku , Tom” kata Stefan singkat . “Darimana temanmu tahu?” . “Hey , apa kau
lupa , kau inikan penghuni apartemen baru disana , hmm lebih tepatnya tetangga
baruku disana , wajar kalau Tom tahu seluk beluk kalian diapartemen itu . Ok,
sudah jelas?” jelas Stefan padanya sambil mengambil sepeda yang jatuh dilantai
itu dan menatapnya sebentar.
“Aku
tidak yakin kau akan mengayuh sepeda mu dengan keadaan kaki yang seperti itu”
kata Stefan sambil menatap kearah kakinya. “Dan aku akan berbaik hati
mengajakmu jalan jalan didaerah ini , aku yang akan mengayuh tentunya”lanjut
Stefan. Friska terdiam , Ia tidak menjawab sedikitpun , ternyata orang yang
ditakutinya Selama ini , malah sangat baik padanya. Ia hanya naik, dan memegang
perut Stefan sejenak. Stefan berbalik menatapnya , sambiltersenyum , Ia mem
balas senyuman itu , senyuman seorang lelaki yang begitu tulus. Tidak , tidak
mungkin Friska menyukai Stefan…. . To be
Continue….
Posting Komentar
Posting Komentar