ƪ(^⌣^)ʃ. Story of Love ƪ(^⌣^)ʃ.


Satu




Matahari bersinar cerah pagi ini , walau mati lampu sekalipun , pada pagi ini ruang remang remang itu akan tampak jelas. Ia –Friska Rachel James – terlihat murung sambil bertopang dagu di meja tulis-nya , jelas sekali hari ini ia punya masalah .  Masalah yang paling dipikirkannya saat itu ialah `bagaimana caranya ia dapat keluar pada hari Minggu , pada hari ini `. Terlalu sulit mengatakan apa yang direncana kan oleh orangtuanya yang beberapa bulan ini menyuruh -nya agar tetap tinggal di kamarnya sebelum orangtuanya kembali dari Tokyo .  “huh…” desahnya kecil sambil menghirup nafas dalam dalam , dan kemudian melanjutkan “Sangat membosankan berada di dalam sini sambil memandang jalanan sepi yang sunyi di kota London.” apa yang dipikirkannya memang benar ,  suasana kota London saat itu memang sunyi dan dari kemarin ia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar tidak menyia-nyiakan hari Minggu nya untuk seharian di kamar , tapi apa yang harus dikatakannya ketika ibunya marah marah dan menunjuk nunjuknya tidak jelas sambil membentaknya , “Jangan pernah turun dari kamarmu sebelum ibu dan ayahmu datang memberikan kabar , ibu tahu itu sangat menganggumu” kata ibunya saat itu. Tentu saja itu membuatnya makin sebal , ia tidak akan pernah bisa bertahan lama disana beberapa minggu , ia tidak seperti Rapunzel , begitulah pemikirannya.
“Jangan murung terus , tidak baik bagi anak gadis sepertimu” kata seorang perempuan berambut pirang ikal yang digerai samping dan kulit putih bersih dengan tubuh langsing 179 cm di belakang-nya. 

Grace Olivia James. Kakak kandungnya yang sedang bekerja sebagai desainer terkenal di London . Grace berbeda dengannya , orangtuanya memperbolehkan Grace kemanapun ia pergi ,  dan ia sebaliknya.  Sambil merenggangkan kaki dan tangannya ia pun menoleh keasal suara yang sebenarnya ia sudah tau siapa itu.
                “Siapa yang murung? Aku hanya kesal , lagipula ini bukan urusanmu , urusi saja baju baju mu yang sudah kau rancang itu” katanya datar dan kembali menoleh pemandangan London itu.
                “Baiklah , jika memang itu yang kau mau , aku pergi dulu ya” Grace pergi meninggalkan ruang itu sambil melambaikan tangan kearah nya . “Ini adalah tempat paling membosankan menurutku” katanya dalam bahasa Inggris , ia memang berbahasa inggris sejak pindah dari Indonesia. Dan kakaknya juga sudah terbiasa dengan bahasa Inggris , dan sudah mulai lupa bahasa Indonesia ,  dan ia pun harusnya begitu walau ia masih ingat sedikit sedikit tentang bahasa Indonesia.
                                                                LLLL

                Di Kamarnya yang bercat merah jambu , dengan tirai tersibak berlawanan arah berwarna kuning , kamar tidur springbed disneyclub dan sebuah lemari pakaian yang 50% kurang berisi .  Beginilah kamarnya , tidak mempunyai TV , Komputer , atau apapun , ia hanya mempunyai 2 buah telepon , yang tentunya memiliki fungsi yang berbeda .  1 milik rumah , dan 1 milik pribadinya sendiri .  Cuaca saat itu tak terlihat dari kamarnya , ia hanya merebahkan diri di springbed-nya.  15.00 begitulah jam yang tertera di jam tangannya.
                “ Friska, ayo buka pintu” Apa ? Grace sudah pulang? Ia menghela nafas berat dan kemudian bangkit dari springbednya dan-
membuka pintu . “ Friska , hari ini Ibu akan pulang dari Tokyo , dan besok , kamu mulai kuliah lagi dan keluar dari rumah , kau senang bukan?” kata Grace saat ia sudah masuk ke kamar Friska dengan wajah berseri seri. Friska? Apa yang dilakukannya? Ia langsung mengangkat ponsel ketelinganya dan berbicara dengan bahasa ibunya –Jepang- .  Grace hanya tersenyum senang dan melambaikan tangannya kearah Friska.
                “Halo, ibu , oh , jadi ibu sudah pulang , dan sudah sampai di London ? bandara maksudnya ? aduh , jadi sekarang aku sudah boleh keluar ? Ha? Jadi ibu kesini untuk menjemputku dan mengajakku pulang lagi ke Indonesia? Urusan keluarga?” saat menyatakan pernyataan terakhir ia langsung menoleh kearah Grace yang sudah keluar pintu , ia tidak tahu Grace mendengar pembicaraannya atau bukan. “O,ohh,, kau tidak menanyakan alasannya Fris” kata Grace dalam bahasa Inggris.  Friska , tentu saja ia sebal kembali dan perlahan meletakkan ponselnya di meja samping lemari pakaiannya .
                “ Aku pulang” suara Bu Gea mengagetkan Grace dan Friska. Mereka pun sama sama menoleh keasal suara.  Ibu sudah sampai disini? Tapi sejak kapan? Grace langsung menyahut perkataan ibunya “Halo, ibu sudah sampai?” terdengar suara kecupan Grace terhadap ibunya.  Friska hanya menganga sebentar dan kemudian menghampiri Grace dan Bu Gea –ibunya-.
                “ Friska?? Ibu rindu sekali padamu , kau sudah memberesi barang-barang mu Fris? Ibu sangat lelah , tahu! , malam ini kita harus berangkat lagi ke Indonesia , ibu tunggu dikamarmu ya nak!” setelah berkata begitu ibunya langsung pergi ke kamarnya dan merebahkan diri untuk sementara.               
                                                               
LJLJ
                “Jika aku bisa jujur sista, bu , aku mengira ini terlalu cepat , bahkan aku belum sempat berpamitan kepada teman temanku” celotehnya saat ia sudah berada di dalam mobil sambil melipat kedua tangan didadanya. “Ya ampun Fris ,  kau lupa , sekarang waktumu liburan , kau tahu, apa salahnya tanpa memberitahu temanmu untuk jangka waktu 30 hari ini” . Astaga , ia memang lupa bahwa ia tengah liburan . Grace lagi lagi mengingatkannya tentang itu.  Tiiit , suara klakson mobil mengingatkannya bahwa ia harus memakai seatbelt saat berada di dalam mobil . Ia lupa lagi , dan sekarang ia diingatkan oleh Pak Ganesha , supirnya . Mobil pun melaju sangat cepat meninggalkan kediamannya yang dikunci rapat-rapat . Good bye.!! London…..
                                                                JJJJ
“Mulai sekarang , kau harus membiasakan diri  Fris, pergi keluar kota dan meminum antimo sebanyak mungkin, haha” terdengar suara tawakan pendek dari ponselnya saat ia sedang bertelepon dengan seseorang.
“Berhentilah meledekku , aku disini hanya untuk 30 har…”
                “1 bulan tepatnya” perempuan itu meledeknya lagi, sungguh membuat ia merasa seperti… Lupakan saja!.
                “Jane!” bentaknya di ponsel saat itu.  “Dengarkan aku dulu”  setelah keheningan menyelimuti ponsel dan kedua orang itu , Jane pun meminta maaf dan menunggu kalimat yang tadi diucapkan-nya.
                “Lalu , kemana kau liburan?” tanya Friska saat emosinya mereda.
                “Hah? aku?, kau ingin balas dendam ya? Kau tahu kan,  ibu dan ayahku selalu menyuruhku di kamar,sementara mereka bepergian”
                “Bukankah itu menyenangkan?” potongnya.
                “Jangan bercanda Fris , Yah walaupun aku punya kamar yang lebih luas dari kamarmu , dan memiliki lemari yang lebih berisi seiring dengan , yah kau tahu, novelku yang banyak, tapi aku juga butuh refreshing  tentang bagaimana pr yang meledak saat dikuliah London” tawanya hampir saja meledak ketika kakaknya Grace langsung datang tanpa mengetuk pintu . Friska terkejut dan langsung mematikan ponsel-nya ,  ia tidak ingin pembicaraan-nya terdengar oleh Grace.  “Kau kelihatan….” . “Aku tahu.” sambungnya cepat ketika ia sadari kalau Grace seperti kaget melihatnya tadi. 
                “ Aku kesini , untuk membereskan kamarmu Fris , kau pasti sangat lelah dan butuh tidur seharian ini” kata Grace saat ia duduk di kamar Friska.
                “ Ini hari apa sista?” tanyanya pada Grace saat kakaknya itu duduk di springbednya yang baru.
                “Satnight Fris” kata Grace pada adiknya yang kelihatan penasaran dan kemudian melanjutkan “Dan saatnya kau mencari couple-mu di hari ini” . Ha? couple ? Grace selalu membuat-nya penasaran.
                “Hmm,, apa yang sista pikirkan seperti-nya salah , aku menanyakan tentang itu , karna rasanya dari London ke Jakarta itu cepat sekali” Ia mengirup nafas dalam dalam dan melanjutkan “Dan sista tau kan? Seharian ini aku malas keluar” .
                “Aku tahu” kata kakaknya sigap setelah beberapa menit membereskan tempat tidurnya . “Tidurlah yang nyenyak , besok kau akan mempunyai kehidupan baru” . Kakaknya terlalu sering bercanda , sampai tidak memperhatikan perkataan-nya barusan . `besok kau akan mempunyai kehidupan baru` Apa Grace mengatakan secara tidak langsung bahwa sebenarnya mereka memang benar-benar pindah kesini? .                     ***********
Dua




                Udara sejuk menembus jendela rumah-nya yang sunyi senyap,  Ia masih terpaku di ruang remang remang itu , Ia tau , hari ini hari Minggu , karena kemarin , Ia baru saja satnight-an bersama teman-teman-nya. Ia melirik kearah jarum jam , 05.00 jam lima pagi tepatnya , Ya, ini memang keseharian-nya jika satnight , Ia lebih sering menonton TV dan begadang sampai jam 7 pagi .
                “Stef, kaukah itu?” tanya seseorang dari balik pintu membuka kulkas dengan badan tegap tinggi 183 kulit putih dengan alis tebal.
                “Kau lupa , ini hari apa? biasanya kan aku memang sering duduk disini kalau hari Minggu Tom” katanya terputus-putus seiring dengan nada TV yang mengganggunya .
                “Ya, ya,  hey , ngomong-ngomong, softdrink yang kemarin aku beli dan didinginkan dikulkas ini keman…”
                “Hey,, bilang saja kau ingin menuduhku secara tidak langsung” sambungnya cepat.
                “Apa boleh buat? Yang tinggal sekamar di apartemen inikan cuma kita” kata Tom sedikit tertawa pelan.
                Ya, memang , di apartemen itu terdapat 3 kamar , 1 miliknya dan Tom , 1 milik Sams dan Chriz , dan 1 milik Ruth dan Ovi.  Sebenarnya , apartemen itu memiliki 4 kamar , tapi , 1 kamar lagi sudah ada yang memesan dari seminggu yang lalu , jadi tidak ada yang menempati tempat itu sebelum .. “Satnight” dan mungkinn,, tiba tiba Ia teringat sesuatu, berarti tempat itu sudah ditempati sejaak 1 jam yang lalu?” . Ia melamun , Sungguh , entah kearah mana , bahkan ketika Tom mengibaskan tangannya berkali kali kedepan wajah Stefan , Ia tidak mendengar.
                “Hey, Steff,, bangun, apa yang kau lamunkan di pagi yang cerah ini” tanya Tom. “Eh, oh , ada apa?” tanyanya balik tergagap-gagap. Seakan baru tersadar kembali kealamnya. Tom mengernyitkan alis , dan kemudian berkata “Jadi kau benar benar melamun?” .
                “Oh, itu , sudahlah , aku hanya melamunkan hal yang tidak perlu dilamunkan , hmmm jadi, tadi apa yang ingin kau katakan?” tanyanya balik untuk kesekian kalinya tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya diajukan.
                “Kita Punya Tetangga Baru , tadi jam 4 baru sampai!” kata Tom menerangkan sambil duduk disofa disampingnya , menghadap TV.  Deg,, Stefan? Matanya langsung melebar , dan kemudian berkata dengan datar “oh.” Tom yang sedang mengunyah kripiknya langsung menganga lebar dan menjawab “Hanya oh? Yang benar saja? Kau tidak mau menanyakan soal siapa tetangga itu , cantikkah atau baik?” . “Sungguh, pikiranmu salah Tom” katanya sambil mengambil remote dan mematikan TV. Ia melirik kearah jam tangannya sebentar, dan kemudian melanjutkan “Dan sepertinya ini sudah jam 6 pagi, sebaiknya aku harus marathon dulu” .  Tom ikut melirik kearah jam tangan Stefan sambil mengangguk mengisyaratkan Stefan bisa pergi.  Tapi sebelum Stefan sempat berdiri tersengar suara perempuan berkata sesuatu dalam bahasa Inggris “Halo, hai, apa ada orang?”. Ia kaget, dan langsung mencaritau suara siapa itu.
                                                                JJJJ
                 
                “Hey Grace, kau menyewa apartemen semewah ini? Tapi sejak kapan?” tanyanya penasaran kepada kakaknya itu , tanpa embel sista.
                “Sudahlah fris, kau tak perlu menanyakan apa yang sudah menjadi milikmu” jawab Grace , walau sudah di Indonesia Grace tetap saja kurang fasih berbahasa Indonesia.
                “Oke oke, pendapatmu bisa diterima” katanya tertawa pelan.  Disana, dikamar itu, Ia hanya memiliki beberapa alat elektronik sederhana , seperti kipas angin, Televisi , Komputer, Telepon , tidak ada yang menarik perhatiannya di tempat itu , kecuali pintu yang bercat coklat dengan motif Naruto diseberang kamarnya . Itu kelihatan seperti kamar memang , tapi Ia tidak tau pasti itu kamar tidur atau bukan , atau mungkin kamar mandi. Ia sungguh pusing kali itu, pagi hari ini? Apa yang harus dilakukannya? Ia terlalu sulit berpikir, sampai Ia tidak memperhatikan jalannya yang sudah menuju kearah pintu yang menarik perhatian-nya tadi.
                “Aduh aw,” napasnya tersengal karna ketukan dahinya yang mengenai pintu itu.  Setelah napasnya kembali teratur Ia memperhatikan pintu itu dari jarak dekat dan perlahan mendorongnya , sambil jaga jaga Ia berkata “Halo, hai , apa ada orang?” tidak ada yang menjawab , Ia hanya melihat 1 sofa panjang didepan TV , dan ada suara mengunyah disana , seperti ada orang yang menonton TV di tengah malam sampai pagi ini. Orang itu mungkin begadang sambil makan PopCorn .
                “Stef? Kau mengundang teman perempuanmu kesini? Apakah dia turis ?” seorang pemuda berambut cepak hitam melihat kearahnya sambil melebarkan mata-nya yang berwarna coklat . Ia mungkin terkejut. Temannya yang berambut cepak hitam dengan mata coklat tadi, menyebut Stef?
                “Hmmmmm” Ia mengigit bibirnya dan sebelum pemuda itu berjalan menghampiri-nya , Ia dengan cepat melanjutkan katakatanya “Hmm Maafkan aku” Bamm!!! Pintu itu tertutup kuat dan rapat , pemuda itu –Stefan- heran? Dan kemudian berjalan dan akhirnya lunglai di sofa. Ia sempat mendengar laki laki itu berkata “Sungguh, jantungku hampir hilang akibat suara pintu yang ditutup oleh perempuan yang tadi” . Ia tau , ia sangat paham bahasa Indonesia, hampir saja ia tertawa lepas , tapi tidak jadi Ia hanya sedikit tertawa pelan mendengar keluhan sang pemilik kamar tadi. Stef? Ia akan mengingat itu.
                                                                JJJJ
               
            “Sudahlah Stef , kauitu harusnya bersyukur ada orang yang membatalkan niatmu untuk marathon hari Minggu ini ahha” terdengar suara ledekan tawa ditelinganya , sungguh Ia hampir muntah mendengar tawakan temannya itu .
                “Kenapa harus? Mau bagaimana sekalipun , aku akan tetap marathon hari ini” katanya tanpa mengundurkan niatnya. Perlahan Ia bangkiit dari sofa itu ketika nafasnya sudah diaturnya kembali dan jantungnya sudah terproses dengan baik lagi.  Dan kemudian berjalan keluar kamar, sambil membawa sepatu olahraganya.
                Bamm! Pintu tertutup kuat lagi, membuat Tom menjatuhkan semua kripik singkong yang Ia makan ke sofa. Ia termenung sejenak dan kemudian mengumpat tidak jelas entah kepada siapa . Ia merasa perempuan yang tadi belum seberapa dengan Stefan .

                                                                JLJL

                “Kemana lagi ?” katanya saat Ia sudah berada di jalan raya tepatnya di lampu merah ini.  Ia sungguh tidak tau lagi ,  sudah 15 menit yang lalu Ia meninggalkan Tom dikamarnya. Jalan raya juga sudah mulai berisi. Ia tidak tau lagi harus kemana. Air putih disepanjang jalan itu bening sekali. Seperti Lumpur.  Tapi itu bukan Lumpur , Ia sekarang berada di Laut. Tempat orang bisanya marathon pagi pagi.
                “Hey , hati hati” suara perempuan , sambil memegang tangannya? Ia bukan perempuan sini , bahasa Indonesianya sungguh janggal. “Maaf , tapi sepertinya anda hampir saja terjun ke Laut ini jika lengan anda tidak segera kutarik” kata perempuan itu lagi. Astaga , Ia mulai sadar kealamnya , Ia melihat laut itu tepat berada diujung kakinya , orang orang yang ada disana melihatnya dengan mata khawatir ? Ia langsung menjawab tatapan tatapan itu.  “Maaf Bu,Pak, tenang saja , jangan khawatir , saya tidak sedang bunuh diri” . Orang-orang yang melihatnya tadi mulai mengalihkan pandangannya. Ia baru saja ingin melihat gadis yang menolongnya tadi tapi gadis itu sudah mengayuh sepedanya dengan cepat . “Hey, berhenti , tunggu” katanya sambil mengejar gadis itu. Tapi , apa yang harus dilakukannya ketika punggung gadis itu pun sudah tak kelihatan , Ia ingin berterima kasih pada gadis itu , dan ingin melihat wajahnya, juga ingin berkenalan dengannya , Tentu saja !

                                                                JJJJ

                “Permisi” suara wanita . Siapa lagi? Jangan jangan wanita yang tadi mengunci pintu itu lagi , Oh tidak jangan.!
                “Iya, Masuklah, tapi jangan tutup pintunya dengan kuat” katanya sambil menatap TV dihadapannya.
                “Ahahaah Are you kidding?  Apa kau melihat saudara permpuanku yang sedang berkeliling keliling disini tad….
                “Ia putih ?” perempuan itu mengangguk. “Apakah Ia setinggi 177 cm?” perempuan itu mengangguk lagi. “Ia mempunyai hidung mancung dengan rambut panjang sebahu?” perempuan itu mengangguk lagi untuk kesekian kalinya. “Kalau begitu aku melihatnya” katanya menyelesaikan penganggukan perempuan itu.
                “Lalu dimana dia?” tanya perempuan itu.
                “Tadi dia menutup pintu itu dengan sangat kuat kau tahu” terangnya. Perempuan itu mengangguk dan tertawa pendek sambil berkata “Jadi , perempuan yang kau maksud itu adikku? Dan yang kau maksud jangan tutup pintunya..” sebelum perempuan itu sempat menyelesaikan perkataannya. Ia langsung berkata “Yah , kau benar , jadi, bisakah kau tidak membicarakan itu lagi?” .
                “Apa kau tinggal sendiri disini?” tanya perempuan itu. Ia tentu saja menggeleng dan berkata “Tidak, aku disini tinggal berdua dengan temanku, tapi Ia baru saja keluar untuk marathon pagi, Ia sungguh senang berolahraga , tapi Ia bukan aku tentunya” jawabnya.
                “Haha, kau membuatku tertawa lagi boy” Ia hanya tertawa pendek melihat senyum dan tawa gadis itu. Itu membuatnya seperti bahagia, tidak tidak mungkin ia menyukai orang yang baru dikenalnya itu.
                “Tunggu,tunggu,biar kutebak , apakah kau Chriz?” sekarang giliran Ia yang menggeleng . “Sams” Ia menggeleng lagi . “Ruth? Atau Ovi?” Ia menggeleng untuk ketiga kalinya sambil berkata “hey , jangan bercanda nona, Ruth dan Ovi itu perempuan dan mereka itu temanku bukan diriku sendiri” katanya dengan muka ditekuk dan itu membuat gadis itu tertawa pelan lagi. “Aku tidak mengerti, kau ini memang mudah tertawa atau aku yang memang benar benar lucu?” tanyanya saat gadis itu menghentikan tawanya. “Entahlah,  hey , bisa kutebak kau itu memiliki tahi lalat di hidung dan mempunyai tinggi 183 cm, apakau Tom Alexander Braham?”
                “Hey, jangan sebut nama lengkapku nona” katanya lagi dan itu membuat gadis it uterus menerus tertawa? Sangat lucu.
                “Jangan takut, ka uterus saja berdiri, apa kau tidak lelah , duduk disini saja, disampingku” katanya dan membuat gadis itu duduk disampingnya. “Jadi, kau orang baru atau lebih tepatnya tetangga baruku disini? Lalu siapa namamu?” katanya sambil mengulurkan tangannya.
                “Namaku Grace ,  Grace Olivia James , dan biar kuberi tau siapa orang yang menutup pintu dengan kuat tadi,’ Ia mengernyitkan alis dan menunggu apa yang dikatakannya selanjutnya. “Namanya,  Frisca Rachel James” sambil menatap lekat wajah laki laki itu.
                “Kau orang yang lucu Tom, dan aku sebenarnya ingin berlama lama disini, tapi aku harus mencari adikku dulu, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya” kata perempuan bernama Grace itu sambil berdiri dan berjalan kearah pintu , menutupnya dengan sangat pelan dan hati hati sambil melambaikan tangan kearahnya. Ia termenung dan terpaku ditempatnya berdiri, walau Grace maupun punggungnya sudah menghilang dari tangkapan retinanya, tapi Ia masih tersenyum senang dan masih mengingat apa yang sudah dialaminya pagi itu. Ia sungguh baru merasakan bahwa jantungnya saat itu berdegup sangat kencang dan kakinya serasa ingin mengejar perempuan itu, tapi apa yang diharapkannya berkata lain ,  karna kakinya lebih memilih terkulai lemas dan terbaring disofa dengan kepala diatas dan kaki dibawah , sambil melipat kedua tangan dibelakang punggungnya Ia berkata
`“Ahh, Ia sungguh , seperti bidadari ….. yang tersesat diapartemen dan tidak tau arah pulang dan diam diam datang kekamarku” Ia melamun sendiri dan tidak sadar bahwa matanya sudah tertutup rapat dan kemudian tertidur pulas disana.
 JJJJ

                “Frisca? Kemana saja kau?” tanya kakaknya Grace padanya saat Ia sudah berada didalam kamarnya.


To Be Continue .....
SULIS RAHMADANI HUTAGALUNG
Just an amateur & study in electrical engineering of North Sumatera

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter